Insentif Sekolah Inklusi Sarana dan Prasarana Belum Memadai


Selasa, 2 Maret 2010 | 04:52 WIB Jakarta, Kompas – Pemerintah akan memberikan insentif khusus bagi sekolah umum yang bersedia menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus. Peran sekolah umum perlu karena kebutuhan anak dengan kebutuhan khusus tidak bisa dipenuhi hanya oleh sekolah luar biasa. Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengemukakan, insentif khusus itu diharapkan bisa digunakan untuk pemberian pelatihan-pelatihan mengenai cara menangani anak dengan kebutuhan khusus kepada guru-guru. ”Yang harus disadari adalah anak dengan kebutuhan khusus itu bukan hanya tanggung jawab orangtua, melainkan kita,” kata Fasli, Senin (1/3) di Jakarta. Menurut data Kementerian Pendidikan Nasional dan Indonesia Centre for Autism Resource and Expertise (Indocare), sekitar 80 persen penderita gejala itu adalah anak laki-laki. Selain memberi insentif khusus, Kementerian Pendidikan Nasional kini juga tengah memperbaiki sistem pelatihan guru agar guru memiliki kemampuan untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Salah satu caranya dengan memberi pengetahuan baru seputar anak berkebutuhan khusus, salah satunya mengenai autisme. Bahkan, Fasli menilai, konsep pendidikan inklusi sudah seharusnya menjadi bagian penting dari sistem pelatihan guru. ”Hanya, memang pelatihan-pelatihan untuk guru seperti ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” kata Fasli. Pelatihan untuk guru ini tidak terbatas pada guru di sekolah luar biasa (SLB), tetapi juga guru sekolah umum yang memiliki tugas mengajar mata pelajaran lain untuk semua anak. Melalui cara ini, masyarakat pada umumnya diharapkan akan memahami dunia anak berkebutuhan khusus. Sekolah umum diharapkan bisa lebih siap dan terbuka menerima dan mendidik anak berkebutuhan khusus. ”Jumlah anak dengan kebutuhan khusus yang memasuki usia sekolah terus meningkat. Seharusnya mereka bisa menempuh pendidikan di sekolah umum, tetapi terhambat oleh keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan sekolah umum,” kata Juny Gunawan, pimpinan di Yayasan INDO. Orangtua keberatan Menurut Fasli, tantangan terberat justru datang dari pihak orangtua yang keberatan ada anak dengan kebutuhan khusus di dalam kelas atau di sekolah yang sama dengan anaknya yang tidak berkebutuhan khusus. Untuk itu, perlu ada upaya sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat. ”Kepala sekolah dan guru harus diberi kesadaran untuk tidak melihat anak berkebutuhan khusus sebagai masalah. Jika anak dengan kebutuhan khusus ini tidak ”dijemput” atau ditolong, kondisi mereka akan menjadi jauh lebih buruk,” ujarnya. Akses tak memadai Kepala SLB Pembina Kota Makassar Fatimah Azis juga mengingatkan, sebagian besar anak dengan kebutuhan khusus membutuhkan bantuan dari sejumlah pihak karena sebagian besar berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Karena malu, banyak orangtua yang tidak menyekolahkan anaknya, dan justru menyembunyikan mereka di rumah. Untuk menyekolahkan anak di SLB, kata Fatimah, sangat berat bagi orangtua yang tidak mampu karena biaya pendidikan yang tidak murah. Oleh karena itu, lebih baik si anak tidak disekolahkan. ”Sekolah inklusi ini harus ada karena bisa menjangkau anak dengan kebutuhan khusus hingga ke pelosok-pelosok desa. Sebab, sampai saat ini SLB hanya ada di ibu kota kabupaten. Padahal, banyak anak dengan kebutuhan khusus yang justru tinggal di daerah pedesaan atau daerah pinggiran,” kata Fatimah. Sarana dan prasarana Namun, sebelum memberikan insentif khusus kepada sekolah inklusi, tutur Fatimah, akan lebih baik apabila pemerintah membuat atau meningkatkan sarana dan prasarana khusus untuk memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Terutama, kata Fatimah, dengan membuka akses, antara lain membuatkan jalan khusus bagi pengguna kursi roda atau penunjuk arah yang jelas bagi penyandang tunanetra. ”Di SLB-SLB saja akses-akses untuk anak seperti itu masih sangat terbatas. Aksesnya tidak memadai. Tidak semua SLB mempunyai sarana dan prasarana seperti itu, apalagi di sekolah-sekolah umum yang memang tidak secara khusus dirancang untuk dapat menangani anak berkebutuhan khusus. Saya kira akses untuk anak seperti itu saja yang seharusnya diperbaiki terlebih dahulu karena hal itu jauh lebih penting,” kata Fatimah. (LUK)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s